Senin, 08 Februari 2016

MASALAH SOSIAL



MAKALAH 

ILMU SOSIAL DASAR 

"Masalah Sosial" 


Disusun oleh : 

Septian Nugroho 56415482 


PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA 

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI 

BEKASI 

2016 



KATA PENGANTAR 



       Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan kemudahan, sehingga saya dapat menyelesaian makalah yang bertema "Masalah Sosial” hingga akhir. 

    Makalah ini telah disusun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini. Saya berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan bermanfaat bagi para pembaca. 

       Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman yang saya miliki, kekurangan pasti masih ada dalam makalah ini. Oleh karena itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini. 



PENYUSUN 



DAFTAR ISI 

Kata Pengantar.................................................................................... i
Daftar Isi............................................................................................ ii 

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.............................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah..........................................................................1
1.3 Tujuan Penulisan........................................................................... 1
1.4 Manfaat Penulisan......................................................................... 2

BAB II LATAR BELAKANG

2.1 Pengertian Masalah Sosial ............................................................2
2.2 Faktor Penyebab Masalah Sosial ..................................................2
2.3 Contoh Masalah Sosial Di Kota Bekasi.........................................5
2.3 Upaya Pengendalian Masalah Sosial ............................................8

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan....................................................................................9
3.2 Saran............................................................................................10 

Daftar Pustaka...................................................................................10



BAB I 
PENDAHULUAN 

1.1 LATAR BELAKANG

     Sosiologi terutama menelaah gejala-gejala yang wajar dalam masyarakat seperti norma-norma, kelompok sosial, lapisan masyarakat, lembaga-lembaga kemasyarakatan, proses sosial, perubahan sosial dan kebudayaan, serta perwujudannya. Tidak semua gejala tersebut berlangsung secara normal sebagaiman dikehendaki masyarakat bersangkutan. Gejala-gejala yang tidak dikehendaki merupakan gejala abnormal atau gejala-gejala patologis. Hal ini disebabkan karena unsur-unsur masyarakat tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya sehingga menyebabkan kekecewaan-kekecewaan dan penderitaan. Gejala-gejala abnormal tersebut dinamkan masalah-masalah sosial. 

     Masalah-masalah sosial tersebut berbeda dengan problema-problema lainya di dalam masyarakat karena masalah-masalah sosial tersebut berhubungan erat dengan nilai-nilai sosial dan lembaga-lembaga kemasyarakatan. Masalah tersebut bersifat sosial karena bersangkut paut dengan hubungan antarmanusia dan di dalam kerangka bagian-bagian kebudayaan yang normatif. Hal ini dinamakan masalah karena bersnagkut-paut dengan gejala-gejala yang mengganggu kelanggengan dalam masyarakat. 

     Masalah sosial merupakan suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Atau, menghambat terpenuhinya keinginan-keinginan pokok warga kelompok sosial tersebut sehingga menyebabkan kepincangan ikatan sosial. Dalam keadaan normal terdapat integrasi serta keadaan yang sesuai pada hubungan-hubungan antar unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat. Apabila antar unsur-unsur tersebut terjadi bentrokan, maka hubungan-hubungan sosial akan terganggu sehingga mungkin terjadi kegoyahan dalam kehidupan kelompok. 

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apa yang dimaksud dengan masalah sosial? 
2. Apa faktor yang dapat menyebabkan timbulnya masalah sosial? 
3. Sebutkan contoh masalah sosial yang berada di wilayah bekasi! 
4. Jelaskan secara umum cara menyelesaikan masalah sosial! 

1.3 TUJUAN PENULISAN

    Dapat menjelaskan tentang masalah sosial, dapat menyebutkan faktor yang menyebabkan timbulnya masalah sosial. Dapat menyebutkan contoh masalah sosial di wilayah bekasi, dan menjelaskan cara menyelesaikan masalah sosial secara umum. 

1.4 MANFAAT PENULISAN

1. Makalah ini dapat dijadikan sumber pengetahuan mengenai Masalah Sosial 
2. Para pembaca dapat mengetahui cara menyelesaikan masalah sosial yang dialami 
3. Makalah ini dapat dijadikan acuan untuk memperbaiki makalah yang akan dibuat selanjutnya. 



BAB II 
PEMBAHASAN 

2.1 PENGERTIAN MASALAH SOSIAL

     Masalah sosial adalah suatu masalah yang berhubungan dengan nilai-nilai sosial dan lembaga-lembaga kemasyarakatan. Mengapa dikatakan sebagai masalah sosial karena berkaitan dengan gejala-gejala yang menggangu ketentraman di dalam masyarakat. Dengan demikian masalah sosial menyangkut nilai nilai sosial yang mencakup segi moral, karena untuk dapat mengklasifikasi suatu persoalan sebagai masalah sosial harus digunakan penilaian sebagai pengukurannya. 

Berikut beberapa definisi masalah sosial yang dikemukakan oleh para ahli, yaitu:

1. Menurut Soerjono Soekanto, masalah sosial merupakan suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. 

2. Menurut Soetomo masalah sosial adalah sebagai suatu kondisi yang tidak diinginkan oleh sebagian besar warga masyarakat. 

3. Menurut Lesli, masalah sosial sebagai suatu kondisi yang mempunyai pengaruh terhadap kehidupan sebagian besar warga masyarakat sebagai sesuatu yang tidak diinginkan atau tidak disukai dan karena perlunya untuk diatasi atau diperbaiki. 

4. Menurut Martin S. Weinberg, masalah sosial adalah situasi yang dinyatakan sebagai sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai oleh warga masyarakat yang cukup signifikan, dimana mereka sepakat dibutuhkannya suatu tindakan untuk mengubah situasi tersebut. 

     Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, masalah berarti sesuatu yang harus diselesaikan atau dipecahkan; persoalan. Masalah merupakan suatu keadaan yang bersumber dari hubungan anatara dua faktor atau lebih yang menghasilkan situasi yang membingungkan. Umumnya masalah disadari “ada” saat seorang individu merasakan bahwa keadaan yang ia hadapi tidak sesuai dengan yang ia inginkan. 

     Sedangkan menurut kamus besar Bahasa Indonesia, sosial berarti segala sesuatu yang berkenaan dengan masyarakat. Sosial merupakan segala perilaku manusia yang menggambarkan hubungan nonidividualis. Istilah tersebut sering disandingkan dengan cabang-cabang kehidupan manusia dan mesyarakat dimanapun. Pengertian sosial ini merujuk pada hubungan-hubungan manusia dalam kemasyarakatan, hubungan antar manusia, hubungan manusia dengan kelompok, serta hubungna manusia dengan organisasi untuk mengembangkan dirinya. 

     Dari beberapa teori diatas dapat disimpulkan bahwa masalah sosial merupakan suatu masalah atau persoalan yang harus diselesaikan yang berhubungan dengan nilai-nilai sosial dan lembaga-lembaga kemasyarakatan. Masalah sosial dipandang oleh sejumlah orang dalam masyarakat sebagai suatu kondisi yang tidak diharapkan. Masalah sosial berkaitan erat dengan hal-hal yang mengganggu kedamaian didalam suatu kelompok masyarakat. 


2.2 FAKTOR PENYEBAB MASALAH SOSIAL

     Pada dasarnya, permasalahan sosial merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Hal ini dikarenakan masalah sosial terwujud sebagai hasil dari kebudayaan manusia itu sendiri dan akibat dari hubungan dengan manusia lainnya. Suatu gejala dapat disebut sebagai permasalahan sosial dapat diukur melalui: 

1. Tidak adanya kesesuaian antara nilai sosial dengan tindakan sosial.
2.Sumber dari permasalahan sosial merupakan akibat dari suatu gejala sosial di masyarakat.
3.Adanya pihak yang menetapkan suatu gejala sosial tergantung dari karakteristik masyarakatnya.
4.Perasalahan sosial yang nyata (manifest social problem) dan masalah sosial tersembunyi (latent social problem).
5.Perhatian masyarakat dan masalah sosial.
6.Sistem nilai dan perbaikan suatu permasalahan sosial.

     Permasalahan sosial yang ada di masyarakat sangat beragam. Masalah yang dihadapi oleh seseorang belum tentu dapat disebut sebagai masalah sosial. Oleh karena itu, Raab dan Selznick mengemukakan permasalahan sosial yang ada di masyarakat dapat terjadi apabila:
Terjadi hubungan antarwarga masyarakat yang menghambat pencapaian tujuan penting dari sebagian besar warga masyarakat.
Organisasi sosial tidak dapat mengatur hubungan antar warga dalam menghadapi ancaman dari luar.

     Adanya berbagai fenomena di lingkungan masyarakat dapat menimbulkan permasalahan sosial. Namun, tidak semua fenomena di masyarakat dapat disebut sebagai permasalahan sosial. Berikut beberapa contoh masalah sosial yang ada di masyarakat, antara lain:

· Kemiskinan

    Kemiskinan adalah suatu keadaan di mana seseorang tidak sanggup memelihara dirinya sendiri sesuai dengan taraf kehidupan kelompok dan juga tidak mampu memanfaatkan tenaga mental maupun fisiknya dalam kelompok tersebut.

· Kriminalitas

     Kriminalitas berasal dari kata crime yang artinya kejahatan. Kriminalitas adalah semua perilaku warga masyarakat yang bertentangan dengan norma-norma hukum pidana. Kriminalitas yang terjadi di lingkungan masyarakat dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik dari dalam maupun luar individu. Tindakan kriminalitas yang ada di masyarakat sangat beragam bentuknya, seperti pencurian, perampokan, pembunuhan, dan lain sebagainya.

· Kesenjangan Sosial Ekonomi

     Kesenjangan sosial ekondmi merupakan perbedaan jarak antara kelompok atas dengan kelompok bawah. Faktor-faktor yang mendorong terjadinya kesenjangan sosial ekonomi di masyarakat, antara lain:

1. Menurunnya pendapatan per kapita.
2. Ketidakmerataan pembangunan di daerah-daerah.
3. Rendahnya mobilitas sosial.
4. Adanya pencemaran lingkungan alam.

     Kesenjangan sosial ekonomi dapat menimbulkan masalah di masyarakat, seperti munculnya tindakan kriminal, adanya kecemburuan sosial, dan lain sebagainya.


2.3 CONTOH MASALAH SOSIAL DI KOTA BEKASI

     Masalah sosial dapat terjadi dikota mana pun, khususnya dikota-kota besar di Indonesia. Bekasi merupakan salah satu dari kota-kota besar yang ada di Indonesia. Semakin banyak penghuni suatu wilayah maka akan semakin besar pula kemungkinan timbulnya masalah sosial. Masalah sosial dapat mencakup lingkungan kecil maupun besar. Berikut adalah beberapa contoh masalah sosial yang terjadi di kota Bekasi. 


1. Kesenjangan Ekonomi

     Kesenjangan Ekonomi mengacu pada persebaran ukuran ekonomi di antara individu dalam kelompok. Kesenjangan ekonomi terjadi akibat adanya pengelompokan masyarakat yang pendapatannya dibawah rata-rata dengan masyarakat yang pendapatannya diatas rata-rata. Kesenjangan ekonomi ini terjadi secara tidak langsung membedakan antara si miskin dan si kaya. 

     Kesenjangan ekonomi bervariasi tergantung masyarakat, waktu, struktur ekonomi, dan sistem. Istilah tersebut dapat mengacu pada persebaran pendapatan atau kekayaan lintas lapisan masyarakat pada waktu tertentu, atau pendapatan dan kekayaan seumur hidup dalam jangka panjang. 


2. Masalah Kemiskinan

     Kemiskian merupakan salah satu problem sosial yang paling serius dialami oleh negara-negara berkembang. Salah satunyadi Bekasi masih banyak masalah kemiskinan yang seolah sangat sulit untuk di selesaikan. 

Ada dua prespektif yang menjadi tinjauan masalah kemiskinan, yaitu ;

· Prespektif Kultural, konsep ini dikelompokkan menjadi tiga tingkatan, yaitu individu, keluarga, dan masyarakat. Tingkat kemiskinan individu berarti kemiskinan terjadi karena mentalitas individu yang malas apatis, fatalistik, pasrah, boros dan ketergantungan. Tingkat kemiskinan Keluarga berarti kemiskinan terjadi karena jumlah anak dalam keluarga yang sangat besar namun tidak didukung oleh produktifitas. Tingkat kemiskinan masyarakat berarti kemiskinan terjadi karena tidak terintegrasinya kaum myang tidak mampu dengan institusi-institusi masyarakat secara efektif.

· Perspektif Struktural. Konsep kemiskinan dalam perspektif struktural adalah kemiskinan yang terjadi karena dampak dari faktor-faktor struktur masyarakat (faktor eksternal), yaitu terjadinya kemiskinan karena: 

1. Program atau perencanaan pembangunan yang tidak tepat; 
2. Pelaksanaan kekuasan pemerintahan (birokrasi pemerintah) yang korupsi; 
3. Kehidupan sosial-politik yang tidak demokratis atau otoriter; 
4. Sistem ekonomi liberalistik atau kapitalistik; 
5. Perkembangnya teknologi modern atau industrialisasi yang mekanistik disemua aspek; 
6. Kesenjangan sosial-ekonomi di masyarakat sangat tinggi; 
7. Globalisasi ekonomi dan pasar bebas. Jadi, menurut perspektif struktural kemiskinan itu terjadi karena faktor ekternal, sedangkan menurut perspektif kultural kemiskinan itu terjadi karena mentalitas individu atau kelompok 


3. Masalah Pendidikan

     Seperti yang telah kita ketahui, pendidikan di Indonesia yang memburuk dapat dilihat dari sistem pendidikan yang diterapkan. Di kota Bekasi terdapat banyak sekolah yang dikelola oleh pemerintah maupun swasta. Dengan jumlah sekolah yang mencapai ribuan tak lantas menyelesainya masalah pendidikan dikota ini. Masih banyak anak-anak yang tidak mengenyam bangku pendidikan hanya karena masalah ekonomi yang terbatas. Padahal Indonesia dapat menjadi negara yang lebih maju jika memiliki sumber daya manusia yang kompeten. 

     Penyebab rendahnya mutu pendidikan antara lain adalah masalah efektifitas, efisiensi dan standardisasi pengajaran. Hal tersebut masih menjadi masalah pendidikan di Indonesia pada umumnya. Adapun permasalahan khusus dalam dunia pendidikan yaitu: 

· Rendahnya sarana fisik; 
· Rendahnya kualitas guru; 
· Rendahnya kesejahteraan guru; 
· Rendahnya prestasi siswa; 
· Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan; 
· Rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan; dan 
· Mahalnya biaya pendidikan. 


4. Masalah Kriminalitas

     Kriminalitas adalah segala macam bentuk tindakan dan perbuatan yang merugikan secara ekonomis dan psikologis yang melanggar hukum yang berlaku dalam negara Indonesia serta norma-norma sosial dan agama. 

     Kriminalitas yang masih marak terjadi dikota-kota besar seakan sulit untuk dibersihkan. Tak banyak para pelaku seolah tergiur dengan pendapatan yang singkat walaupun terkadang dibutuhkan pertaruhan nyawa. 


5. Masalah Lingkungan Hidup

     Lingkungan hidup adalah sebuah kesatuan ruang dengan segala benda dan makhluk hidup di dalamnya termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi keberlangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia dan makhluk hidup yang lainnya. Lingkungan hidup mencakup ekosistem, perilaku sosial, budaya, dan juga udara yang ada. 

    Lingkungan hidup adalah segala sesuatu yang berada disekitar manusia yang mempunyai hubungan timbal balik. Masalah lingkungan hidup disini berarti tidak terawatnya lagi lingkungan disekitar kita yang secara sengaja dirusak oleh manusia yang tidak bertanggungjawab. 


6. Penyimpangan Perilaku Remaja dan Kenakalan Remaja

   Penyimpangan perilaku remaja merupakan salah satu masalah sosial yang paling mengkhawatirkan. Pejuang muda Indonesia yang seharusnya dididik untuk membangun negara ini malah terjerumus kedalam lubang hitam yang dapat merusak remaja itu sendiri. Jati diri sebagai bangsa muda Indonesia seakan sirna, seiring perkembangan jaman dan masuknya budaya barat ke Indonesia tanpa penyaringan secara langsung membuat kaum muda berlomba-lomba untuk mempelajari budaya tersebut. Secara tidak langsung bangsa muda perlahan telah meninggalkan budayanya sendiri, budaya Indonesia. Norma-norma yang berlaku di Indonesia seharusnya menjadi pegangan yang cukup kuat untuk menahan diri untuk tetap memiliki tujuan hidup yang baik. 

   Remaja merupakan masa-masa yang sangat labil bagi seorang individu karena saat itulah seorang remaja sedang mencari jati dirinya. 


2.4 UPAYA PENGENDALIAN MASALAH SOSIAL

1. Peran Orangtua. Ini adalah pintu pertama dalam menangani masalah sosial. Selain karena orang tua adalah merupakan bagian dari tatanan sosial masyarakat, orang tua juga menjadi penentu baik tidaknya kehidupan keluarga yang ujung-ujungnya akan bersinggungan dengan kehidupan masyarakat disekitarnya. Peran orang tua dalam hal ini di antaranya, 

§ Dengan bekerja sebaik mungkin memenuhi kebutuhan keluarga agar dengan perekonomian keluarga yang sehat tidak akan berdampak pada terjadinya persoalan ekonomi keluarga yang akan meyerempet kehidupan masayrakat di sekitarnya. 

§ Dengan memberikan pendidikan yang baik kepada anak-anaknya, bukan hanya sekedar menyekolahkan mereka tapi juga dengan senantiasa memberi nasehat saat di rumah. 

§ Dengan memberi tambahan ilmu agama pada anak-anaknya merupakan langkah tepat dalam mengatasi dan menghindari masalah sosial. Sebab agama akan menuntun mereka berprilaku lebih baik sehingga kehidupan berbudaya dapat berjalan dengan baik. 

§ Dengan memberi contoh yang baik pada anak merupakan kunci dari semua yang kita ajarkan. Tak ada artinya anda menasehati tiap hari kalau anda sendiri tidak melakukan apa yang anda katakan. 

§ Dengan menjadi orang tua angkat. Untuk keluarga yang mampu peran ini seyogyanya dijalankan sebab jika sekiranya saja setiap satu keluarga melakukan ini maka akan sangat banyak anak terlantar yang akan memperoleh kehidupan yang lebih baik dan tentunya diharapkan mampu mengurangi dampak masalah sosial masyarakat nantinya. 

2. Peran Golongan Tertentu. Yang dimaksud di sini adalah seperti pengusaha, tokoh agama, lembaga-lembaga sosial, maupun pribadi yang masuk kategori mapan atau mampu memberi sumbangsi dalam mengatasi masalah sosial di daerahnya. Bagi seorang pengusaha misalnya dengan memberikan bantuan modal pada anak muda yang ingin berbisnis atau menyediakan fasilitas belajar bagi mereka. Untuk tokoh agama tentutunya banyak melakukan penyuluhan dan nasehat-nasehat yang mengena di hati orang-orang agar mudah diterima. Sedang untuk lembaga sosial, misalnya organisasi kemasyarakatan, sebaiknya banyak melakukan penelitian soal keadaan sosial di daerahnya dan kemudian menerapkan pemecahannya dengan melibatkan banyak orang dan lain sebagainya. 

3. Peran Pemerintah. Peran inilah sebenarnya yang sangat berpengaruh dan dapat membantu peran-peran lainnya dalam mengatasi masalah sosial. Karena mereka mempunyai wewenang untuk menggerakkan, memfasilitasi dan bahkan memberi punishment bagi yang tidak mengikuti aturannya. Diantara yang dapat dilakukan pemerintah adalah dengan mendirikan lembaga khusus yang menangani persoal-persolan tertentu, misalnya penyuluhan anti narkoba, pelatihan ketenagakerjaan dan lain sebagainya. Atau misalnya menciptakan program-program yang berdampak pada pemeliharaan tatanan sosial, misalnya memberkan Bantuan Tunai pada masyarakat kurang mampu, memfasilitasi kebutuhan sekolah secara berkala dan lain sebagainya. Selain itu menciptakan aturan yang tegas pada semua usaha yang dilakukan oleh pemerintah juga menjadi senjata ampuh dalam menjaga kelansungan program-program tersebut. 



BAB III 
PENUTUP 


3.1 KESIMPULAN

    Masalah sosial merupakan suatu masalah atau persoalan yang harus diselesaikan yang berhubungan dengan nilai-nilai sosial dan lembaga-lembaga kemasyarakatan. Masalah sosial membutuhkan pemecahan masalah untuk menyelesaikan masalah sosial tersebut agar menciptakan lingkungan hidup yang damai dan mencegah terjadinya perselisihan antar masyarakat. 

      Masalah sosial dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu alam, biologis, budaya dan sosial. Masalah sosial juga memiliki karakteristik khusus yang menjadikan masalah tersebut menjadi masalah sosial. 

       Sebagai negara kepulauan dan memiliki beberapa kota besar, celah untuk timbulnya masalah sosial di Indonesia sangat lah besar dikarenakan pertumbuhan penduduk yang meningkat dan ekonomi yang menunduk membuat tingkat kesejahteraan segelintir orang menurun, akibatnya tak sedikit diantara mereka menghalalkan segala cara untuk memenuhi kebutuhan hidup masing-masing. 


3.2 SARAN

      Untuk menghadapi masalah sosial dibutuhkan sikap yang bijaksana dan cermat dalam meneliti sebuah masalah sosial itu. Tidak sedikit masalah sosial dikaitkan dengan suasana hati seseorang, oleh karena itu kita harus berusaha menyikapi suatu masalah sosial dengan baik. Tidak menghakimi seseorang yang tersangkut masalah sosial secara langsung, karena Indonesia memiliki hukum yang baik untuk mengatasi hal-hal seperti itu. 


DAFTAR PUSTAKA 

https://id.wikipedia.org/wiki/Masalah_sosial

belajarpsikologi.com/pengendalian-sosial/

http://www.anneahira.com/pengertian-sosial.htm

http://www.ilmupsikologi.com/2015/08/definisi-dan-klasifikasi-masalah-sosial.html#ixzz3zShZMiX3

www.astalog.com/5858/pengertian-masalah-sosial.htm

GEPENG DAN WANITA MALAM



MAKALAH 

ILMU SOSIAL DASAR

“MENGENAI GEPENG DAN WANITA MALAM”


Disusun oleh :

Septian Nugroho 56415482


PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

BEKASI

2016



KATA PENGANTAR

       Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan kemudahan, sehingga saya dapat menyelesaian makalah yang berjudul “Opini Mengenai Pengemis dan Wanita Malam” hingga akhir. 

    Makalah ini telah disusun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini. Saya berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan bermanfaat bagi para pembaca.

      Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman yang saya miliki, kekurangan pasti masih ada dalam makalah ini. Oleh karena itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.



PENYUSUN




DAFTAR ISI



Kata Pengantar...................................................................................... i

Daftar Isi.............................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang............................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah...........................................................................1

1.3 Tujuan Penulisan............................................................................ 1

1.4 Manfaat Penulisan.......................................................................... 2

BAB II LATAR BELAKANG

2.1 Pengertian Pengemis dan Wanita Malam.......................................2

2.2 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi ...............................................4

2.3 Dampak Sosial ...............................................................................5

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan.....................................................................................6

3.2 Saran...............................................................................................6

Daftar Pustaka......................................................................................6





BAB I
PENDAHULUAN



1.1 LATAR BELAKANG

    Setiap tahun tidak dapat dipungkiri pertumbuhan penduduk di Indonesia semakin meningkat. Peningkatan jumlah penduduk yang tidak terbatas memberikan banyak dampak negatif. Salah satunya lapangan pekerjaan yang terbatas, kebutuhan semakin meningkat, semakin mahalnya biaya hidup, dan masih banyak lainnya. Untuk memenuhi semua kebutuhan hidup, mereka terpaksa melakukan berbagai macam cara. Bahkan tidak sedikit diantara mereka menghalalkan berbagai macam cara untuk mendapatkan uang. Tidak heran tingkat kejahataan di kota-kota besar di Indonesia meningkat pesat. Banyak orang yang merasa dirugikan, namun mereka pun tak mampu berbuat sesuatu untuk mengubah kondisi ini.

   Menjadi pengemis dan wanita malam bahkan menjadi pilihan mereka untuk tetap mampu memenuhi kebutuhan hidup. Banyak orang berpikir menjadi pengemis adalah hal yang mudah, hanya dengan memasang wajah memelas dengan baju compang-camping dan duduk berjam-jam di pinggir jalan yang ramai mereka lantas mendapatkan uang. Sebagai wanita malam, mereka mungkin berfikir hanya dengan keberanian diawal dan mampu mendapatkan uang yang banyak. Itu semua mereka lakukan demi kelangsungan hidup.


1.2 RUMUSAN MASALAH

a. Apa yang dimaksud gepeng dan wanita malam?

b. Apa faktor yang menjadikan mereka sebagai gepeng (gelandangan dan pengemis) dan wanita malam sebagai profesi mereka?

c. Apa dampak sosial yang mereka dapatkan dari lingkungan sekitar? 

d. Bagaimana cara mengurangi jumlah gepeng dan wanita malam?


1.3 TUJUAN PENULISAN

     Menjelaskan arti kata gepeng dan wanita malam, Mengetahui apa saja faktor yang membuat seseorang menjadi gepeng (gelandangan dan pengemis) dan wanita malam, Manjabarkan dampak sosial yang didapat atas profesi mereka dan Menjelaskan cara mengurangi jumlah gepeng dan wanita malam.


1.4 MANFAAT PENULISAN

a. Setelah membaca makalah ini diharapkan para pembaca untuk tidak lagi meremehkan dan memandang para gepeng sebelah mata, walaupun hal ini tidak dibenarkan.

b. Para pembaca dapat sedikit mengerti apa yang mereka rasakan.

c. Menambah pengetahuan mengenai gepeng dan pengemis.




BAB II
PEMBAHASAN


2.1 PENGERTIAN GEPENG DAN WANITA MALAM

A. GEPENG

     Gepeng merupakan singkatan dari kata gelandangan dan pengemis. Masyarakat Indonesia secara umum sudah sangat akrab dengan akronim/singkatan “gepeng” (gelandangan dan pengemis) tersebut yang mana tidak hanya menjadi kosakata umum dalam percakapan sehari-hari dan topik pemberitaan media massa, tetapi juga sudah menjadi istilah dalam kebijakan pemerintah merujuk pada sekelompok orang tertentu yang lazim ditemui di kota-kota besar. Kosakata lain yang juga sering digunakan untuk menyebutkan keberadaan gelandangan dan pengemis tersebut di masyarakat Indonesia adalah tunawisma.

   Menurut ketentuan Peraturan Pemerintah RI No. 31 Tahun 1980 tentang Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis yang dimaksud dengan gelandangan dan pengemis tersebut adalah sebagai berikut:

· Gelandangan adalah orang-orang yang hidup dalam keadaan tidak sesuaidengan norma kehidupan yang layak dalam masyarakat setempat, serta tidak mempunyai tempat tinggal dan pekerjaan yang tetap di wilayah tertentu dan hidup mengembara di tempat umum

· Pengemis adalah orang orang yang mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta di muka umum dengan berbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan dari orang lain.

     Menurut Parsudi Suparlan, gelandangan berasal dari kata gelandang dan mendapat akhiran “an”, yang berarti selalu bergerak, tidak tetap dan berpindah-pindah. Beliau juga mengemukakan pendapatnya tentang apa yang dimaksud dengan masyarakat gelandangan adalah sejumlah orang yang bersama-sama mempunyai tempat tinggal yang relatif tidak tetap dan mata pencaharian yang relatif tidak tetap serta dianggap rendah dan hina oleh orang-orang diluar masyarakat kecil itu yang merupakan suatu masyarakat yang lebih luas. Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh anggota-anggotanya serta norma-norma yang ada pada masyarakat gelandangan tersebut dianggap tidak pantas dan tidak dibenarkan oleh golongan-golongan lainnya dalam masyarakat yang lebih luas yang mencakup masyarakat kecil Itu.


B. Wanita malam

     Wanita malam atau disebut juga pelacur merupakan profesi yang menjual jasa untuk memuaskan kebutuhan seksual pelanggan. Biasanya pelayanan ini dalam bentuk pelayanan seks. Pelacuran atau prostitusi adalah penjualan jasa seksual, seperti seks oral atau hubungan seks, untuk uang. Seseorang yang menjual jasa seksual disebut pelacur, yang kini sering disebut dengan istilah pekerja seks komersial (PSK) atau wanita tuna susila (WTS).

     Adapun pengertian WTS menurut Soedjono D. (1977) adalah sebagai berikut :
“ Wanita Tuna Susila atau wanita pelacur adalah wanita yang mejual tubuhnya untuk
memuaskan seksual laki – laki siapapun yang menginginkanya, dimana wanita tersebut
menerima sejumlah uang atau barang ( umumnya dengan uang dari laki-laki pemakaianya ).

     Di kalangan masyarakat Indonesia, pelacuran dipandang negatif, dan mereka yang menyewakan atau menjual tubuhnya sering dianggap sebagai sampah masyarakat. Ada pula pihak yang menganggap pelacuran sebagai sesuatu yang buruk, malah jahat, namun toh dibutuhkan (evil necessity). Pandangan ini didasarkan pada anggapan bahwa kehadiran pelacuran bisa menyalurkan nafsu seksual pihak yang membutuhkannya (biasanya kaum laki-laki); tanpa penyaluran itu, dikhawatirkan para pelanggannya justru akan menyerang dan memperkosa kaum perempuan baik-baik

     Salah seorang yang mengemukakan pandangan seperti itu adalah Augustinusdari Hippo (354-430), seorang bapak gereja. Ia mengatakan bahwa pelacuran itu ibarat "selokan yang menyalurkan air yang busuk dari kota demi menjaga kesehatan warga kotanya." Pandangan yang negatif terhadap pelacur seringkali didasarkan pada standarganda, karena umumnya para pelanggannya tidak dikenai stigma demikian.


2.2FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

    Segala sesuatu yang terjadi pasti memiliki faktor yang mempengaruhi tindakan atau kondisi tersebut. Kondisi yang kita alami sekarang merupakan hasil dari usaha kita sebelumnya. Dalam masalah ini berarti ada beberapa faktor yang mempengaruhi gepeng dan wanita malam untuk menjalani hidup mereka seperti itu. Faktor-faktornya sebagai berikut :

1. Ekonomi

     Faktor ekonomi merupakan faktor utama yang menjadi alasan mereka melakukan hal tersebut. Mereka yang awalnya memiliki kondisi ekonomi yang sangat memprihatinkan dan minimnya kemauan mereka untuk usaha lebih giat terpaksa menjadi pengemis. Setelah mereka merasa ‘asik’ nya mendapatkan uang hanya dengan duduk dipinggir jalan dan tidak melakukan apapun, akhirnya mereka merasa nyaman dan memilih untuk melakukan hal tersebut secara berkelanjutan. Dengan melihat hal ini tak sedikit orang-orang yang merasa kurang pun ikut terjun memilih profesi ini bahkan ada diantara mereka yang memanipulasi kondisi fisik mereka hanya untuk menarik perhatian.

2. Keluarga

     Keluarga merupakan pondasi utama dari seorang individu untuk membangun masa depan yang lebih baik. Jika dalam suatu keluarga tidak ada kepedulian antar sesama anggota maka tak jarang diantara mereka akan terjerumus kedalam prostitusi. Para orang tua yang menelantarkan anak-anaknya pun menimbulkan semakin banyak jumlah gelandangan dan pengemis belia yang berkeliaran di pinggir jalan.

3. Kepribadian

   Adapula seseorang yang jika dilihat dari sisi ekonominya sudah cukup, namun karena kepribadiannya yang terus menginginkan kehidupan yang lebih dan lebih mewah lagi maka terjun ke dunia prostitusi dan menjadi wanita malam adalah salah satu kesempatan mereka untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar dan singkat. Faktor ini kembali lagi kepada keluarga dalam mendidik anak-anak mereka.

4. Gaya Hidup

     Ada beberapa dari mereka yang mungkin berasal dari keluarga kaya raya yang tiba tiba mejalani kehidupan dengan perekonomian yang terbilang sulit. Dengan gaya hidup yang semula digelimangi oleh harta maka bukan hal yang tidak mungkin seseorang menginginkan uang dengan cepat. Namun jika orang tersebut didasari oleh kepercayaan agama yang kuat dan bimbingan orang tua yang bijaksana maka hal ini dapat dicegah.

5. Lingkungan

     Seseorang masuk kedunia prostitusi juga dapat dipengaruhi dari lingkungan sekitarnya. Jika seseorang berada ditengah tengah orang yang berprofesi sebagai wanita malam maka tidak menutup kemungkinan orang itu akan ikut masuk ke dunia prostitusi.


2.3 DAMPAK SOSIAL

     Manusia merupakan makhluk sosial yang berarti manusia tidak dapat hidup tanpa adanya bantuan dari orang lain.

    Dampak secara sederhana bisa diartikan sebagai pengaruh atau akibat. Dalam setiap keputusan yang diambil oleh se-seorang biasanya mempunyai dampak tersendiri, baik itu dampak positif maupun dampak negatif.

    Pengertian dampak menurut KBBI adalah benturan, pengaruh yang mendatangkan akibat baik positif maupun negatif. Pengaruh adalah daya yang ada dan timbul dari sesuatu (orang / benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang. Pengaruh adalah suatu keadaan dimana ada hubungan timbal balik atau hubungan sebab akibat antara apa yang mempengaruhi dengan apa yang dipengaruhi. 

Dampak sosial yang didapat sebagai gepeng dan wanita malam :

a. Dianggap sebagai sampah masyarakat
b. Dikucilkan dari lingkungan sekitar
c. Tidak dianggap sebagai bagian dari keluarga
d. Dinilai memiliki kepribadian yang kurang baik
e. Dinilai tidak bermoral dan tidak berpendidikan



BAB III
PENUTUP



3.1 KESIMPULAN DAN SARAN

     Menjadi gelandangan, pengemis dan wanita malam bukanlah pilihan yang dapat dijadikan sumber penghasilan untuk kelangsungan hidup yang lebih baik. Seseorang tidak akan pernah mendapatkan kepuasan dan kebahagiaan yang sempurna karena profesi ini memiliki dampak sosial yang negatif. Pendidikan dasar yang diberikan oleh keluarga merupakan inti dari keteguhan hati untuk mendapatkan sumber nafkah yang halal. Ekonomi yang memburuk dapat dikembalikan dengan cara berusaha untuk melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat dari pada mengemis dan menjual diri. Perbaiki gaya hidup dan mulai melakukan inovasi yang lebih untuk menunjang ekonomi adalah salah satu cara untuk lepas dari profesi ini.




DAFTAR PUSTAKA

https://wisuda.unud.ac.id/pdf/1290561035-3-BAB%20II.pdf

http://hukum.unsrat.ac.id/pp/pp_31_1980.htm

https://id.wikipedia.org/wiki/Pelacuran

http://pengertian-pengertian-info.blogspot.co.id/2015/05/pengertian-dampak-menurut-ahli.html

https://buntokhacker.wordpress.com/materi-pemelajaran/sosial/pengertian-dan-definisi-sosial-menurut-para-ahli/

https://gedesedana.wordpress.com/2009/07/28/faktor-penyebab-terjadinya-gelandangan-dan-pengemis/

tobasuryapranata.blogspot.com

http://savieraandriany.blogspot.co.id/